Galungan diperingati setiap 210 hari sekali menurut penanggalan Hindu Saka atau setiap enam bulan sekali, namun selalu jatuh di hari Rabu Kliwon Dungulan. Galungan berkaitan erat dengan Hari Raya Kuningan yang dianggap sebagai penutup perayaan Galungan. Oleh karena itu, ucapan selamat biasanya berbunyi "Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan".
Adapun tradisi masyarakat untuk merayakan ini adalah dengan menghaturkan banten (sesaji) berupa bubur sumsum berwarna seperti bubuh putih untuk umbi-umbian, bubuh bang untuk padang-padangan, bubuh gadang untuk pohon yang berkembangbiak secara generatif, dan bubuh kuning untuk pohon yang berkembangbiak secara vegetatif. Pada hari Tumpek Wariga ini semua pepohonan akan disirati air suci dan diberi banten berupa bubuh tadi. Setelah selesai, pemilik pohon akan memukul atau mengelus batang pohon sambil mengutarakan permohonan.
Selama Galungan, upacara Ngelawang akan digelar di setiap desa. Ritual ini bertujuan untuk mengusir roh jahat yang dilakukan oleh tarian barong. Barong diundang ke setiap rumah dan kehadirannya dimaksudkan untuk mengembalikan keseimbangan antara yang baik dan jahat di dalam rumah. Sebelum barong menari para penghuni rumah akan berdoa lebih dahulu.
Sementara itu pada puncak perayaan yang disebut Hari Raya Kuningan, umat Hindu di Bali yakin bahwa Sang Hyang Widi turun ke Bumi untuk memberikan berkat bagi semua orang. Sebagai penutupan rangkaian ritual Galungan, Kuningan juga menandai kembalinya dewa dan leluhur ke alam mereka sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar